Purnomo Sidi
Education for Better Future
Sunday, 8 December 2019
Bab IV Hukum permintaan dan penawaran, Elatisitas, dan Konsep keseimbangan harga
1. Permintaan
a. Definisi
Permintaan adalah jumlah barang atau
jasa yang ingin dan mampu dibeli oleh konsumen, pada berbagai tingkat harga,
dan pada periode tertentu
b. Hukum permintaan dan hukum penawaran
Hukum permintaan menyatakan bahwa bila
harga naik, jumlah barang yang diminta turun. Sebaliknya bila harga turun maka
jumlah barang yang diminta akan naik. Berdasarkan hukum diatas, kita dapat
menggambarkan permintaan terhadap suatu barang dalam bentuk kurva atau grafik.
Untuk menggambarkan hukum permintaan dan hukum penawaran, biasanya yang
digunakan sebagai tolak ukur adalah faktor harga. Sementara itu, faktor-faktor
lainnya dianggap tetap atau konstan. Syarat ini dikenal dengan istilah atau
asumsi “cateris paribus”.
Perhatikan contoh permintaan terhadap
produk tempe pada tabel dibawah ini. Tabel ini jika digambarkan dalam bentuk
kurva maka akan terlihat seperti pada peraga. Dari bentuk kurva itu dapat
disimpulkan bahwa kemiringan (slope) hukum permintaan dan hukum penawaran
adalah negatif yaitu bergerak dari kiri atas ke kanan bawah.
Tabel 8.1. Harga Tempe Per
Unit & Jumlah Yang Diminta
Harga Tempe per Unit (Rp)
|
Jumlah
yang Diminta (Unit)
|
5.000
4.000
3.000
2.000
1.000
|
2
4
6
8
10
|
|
5.000
|
|
4.000
|
|
3.000
|
|
2.000
|
|
1.000
|
|
0
|
|
2
|
|
4
|
|
6
|
|
7
|
|
8
|
|
Q
|
|
P
|
|
Jumlah yang
Diminta (Unit)
|
|
Bentuk kurva yang menurun dari
kiri atas ke kanan bawah menunjukkan bahwa penurunan harga akan
mengakibatkan kenaikan permintaan
|
c. Pergeseran Hukum permintaan dan hukum
penawaran
Apabila ada perubahan faktor-faktor
penentu permintaan, yaitu faktor apapun selain dari harga, maka ini akan
mengakibatkan hukum permintaan dan hukum penawaran bergeser. Setiap perubahan
yang mengakibatkan pertambahan jumlah permintaan pada suatu tingkat harga
tertentu, akan menggeser hukum permintaan dan hukum penawaran ke kanan.
Sebaliknya, setiap perubahan yang menurunkan jumlah permintaan akan menggeser hukum
permintaan dan hukum penawaran ke kiri.
|
P
|
|
Q
|
|
D
|
|
D1
|
|
D2
|
|
0
|
|
Kenaikan
Permintaan
|
|
Penurunan
Permintaan
|
|
Perhatikan perbedaan antara
pergerakan sepanjang kurva permintaan dan pergeseran kurva permintaan.
Pergeseran kurva permintaan berlaku ketika faktor penentu permintaan
berubah, sementara harga tetap.
|
2. Penawaran
a. Definisi
Penawaran adalah jumlah barang dan jasa yang tersedia untuk dijual
pada berbagai tingkat harga dan situasi
b. Kurva Penawaran
Hukum penawaran menyatakan bahwa bila
harga naik, jumlah barang yang ditawarkan juga naik. Sementara bila harga
turun, jumlah barang yang ditawarkan juga akan turun. Berdasarkan hukum ini
kita dapat membuat kurva penawaran.Berikut ini adalah gambaran bagaimana
penawaran berubah sesuai dengan perubahan harga, cateris paribus (faktor-faktor lain dianggap tetap).
Apabila kurva penawaran dua individu
atau lebih digabungkan maka kita akan mendapatkan penawaran pasar (market supply). Berikut ini akan
dijelaskan dalam bentuk tabel dan kurva dari penawaran.
c. Pergeseran Kurva Penawaran
Apabila faktor-faktor penentu berubah,
kecuali harga, maka ini akan menyebabkan kurva penawaran bergeser. Setiap
perubahan menyebabkan meningkatnya penawaran, akan menggeser kurva penawaran ke
kanan. Sebaliknya setiap perubahan yang menyebabkan jumlah penawaran menurun,
akan menggeser kurva penawaran ke kiri.
|
P
|
|
Q
|
|
0
|
|
S2
|
|
S1
|
|
S
|
|
Penurunan Penawaran
|
|
Kenaikan Penawaran
|
|
Setiap perubahan yang menaikkan
jumlah yang bersedia ditawarkan oleh penjual pada tingkat harga tertentu
akan menggeser kurva penawaran ke kanan. Sebaliknya setiap perubahan yang
menurunkan jumlah yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu akan
menggeser kurva penawaran ke kiri.
|
3. Definisi Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan (Ed) diartikan
sebagai derajat kepekaanperubahan kuantitas barang yang diminta yang disebabkan
karenaperubahan harga barang itu sendiri. Pengertian lain, Elastisitas
permintaansering diartikan sebagai perbandingan persentase perubahan
kuantitasbarang yang diminta dengan persentase perubahan harga barang itu
sendiri.Besar kecilnya elastisitas permintaan diukur dengan tingkat
KoefisienElastisitas.
Jenis
Elastisitas Permintaan
·
Permintaan Elastis (Ed >1)
·
Permintaan Inelastis ( Ed < 1).
·
Permintaan Elastis Uniter ( Ed = 1).
·
Permintaan Elastis Sempurna ( Ed= )
·
Permintaan Inelastis Sempurna (Ed = 0)
Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas
Permintaan
·
Harga
·
Pendapatan.
·
Harga Barang Lain yang Berkaitan
·
Selera Konsumen
·
Perkiraan
·
Tradisi
·
Mode
4. Definisi Elastisitas Penawaran
Elastisitas
penawaran (Es) diartikan sebagai derajat kepekaanperubahan kuantitas barang
yang ditawarkan yang disebabkan karenaperubahan harga barang itu sendiri.
Pengertian lain, Elastisitas penawaransering diartikan sebagai perbandingan
persentase perubahan kuantitasbarang yang ditawarkan dengan persentase
perubahan harga barang itusendiri. Besar kecilnya elastisitas penawaran diukur
dengan tingkat KoefisienElastisitas Penawaran.
Jenis
Elastisitas Penawaran
·
Penawaran Elastis (Es
>1)
·
Penawaran Inelastis ( Es
< 1).
·
Penawaran Elastis Uniter ( Es
= 1).
·
Penawaran Elastis Sempurna ( Es=
)
·
Penawaran Inelastis Sempurna (Es
= 0)
Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Penawaran
·
Harga
·
Teknik produksi
·
Harga sumber produksi
·
Perkiraan
5. Pengertian
Break even Point
Break event point adalah suatu keadaan dimana
dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas
(penghasilan = total biaya). Sebelum memproduksi suatu produk, perusahaan
terlebih dulu merencanakan seberapa besar laba yang diinginkan. Ketika
menjalankan usaha maka tentunya akan mengeluarkan biaya produksi, maka dengan
analisis titik impas dapat diketahui pada waktu dan tingkat harga berapa
penjualan yang dilakukan tidak menjadikan usaha tersebut rugi dan mampu
menetapkan penjualan dengan harga yang bersaing pula tanpa melupakan laba yang
diinginkan. Hal tersebut dikarenakan biaya produksi sangat berpengaruh terhadap
harga jual dan begitu pula sebaliknya, sehingga dengan penentuan titik impas
tersebut dapat diketahui jumlah barang dan harga yang pada penjualan. Analisis
break even sering digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan
keuangan. Dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini
untuk mengetahui:
1.
Hubungan antara penjualan,
biaya, dan laba
2.
Struktur biaya tetap dan
variable
3.
Kemampuan perusahaan memberikan
margin unutk menutupi biaya tetap
4.
Kemampuan perusahaan dalam
menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi
Selanjutnya, dengan adanya analisis titik impas
tersebut akan sangat membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan
produksi, sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan
kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang
diharapkan melalui penentuan
-
harga jual persatuan,
-
produksi minimal,
-
pendesainan produk, dan lainnya
Dalam penentuan titik impas perlu
diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini agar titik impas dapat ditentukan
dengan tepat, yaitu:
-
Tingkat laba yang ingin dicapai
dalam suatu periode
-
Kapasitas produksi yang
tersedia, atau yang mungkin dapat ditingkatkan
-
Besarnya biaya yang harus
dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya variable.
Penjelasan
break even point
Teknik break even poin analysis atau cost volume
profit analysis sering digunakan dalam menganalisis keuangan perusahaan. Model
ini mencoba mencari dan menganalisis aspek hubungan antara besarnya investasi
dan besarnya volume rupiah yang diperlukan untuk mencapai tingkat laba
tertentu.
Dalam perusahaan peranan penjualan sudah jelas
yaitu sebagai “generating income” yaitu sumber pembentukan laba. Kita
menginginkan agar penjualan dapat menutupi biaya total yang terdiri dari biaya
tetap dan biaya variable.
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak
dipengaruhi oleh volume kegiatan. Beroperasi atau tidak, biaya ini harus
dikeluarkan, misalnya biaya penyusutan, biaya sewa, biaya gaji, dan lain lain.
Sebaliknya semakin banyak volume kegiatan atau produksi semakin rendah biaya
per unit biaya variable adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada volume
kegiatan. Jika ada kegiatan pasti ada biaya variable ini. Semakin banyak volume
kegiatan maka semakin banyak biaya variable. Namun biaya per unit relative
sama. Misalnya biaya bahan, gaji tenaga kerja langsung, komisi penjualan, dll.
Pengetahuan terhadap biaya inisangat penting dalam melakukan analisis break
even.
Break even berarti suatu keadaan dimana
perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh
biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh
penghasilan penjualan. Total biaya( biaya tetap dan biaya variable) sama dengan
total penjualan, sehingga tidak terjadi laba dan juga kerugian.
Rumus
BEP
Pengetahuan akan angka break even ini sangatlah
penting dalam melakukan analisis keuangan, maupun dalam perencanaan laba dan
pengambilan keputusan. Perhitungan break even inidapat dijelaskan melalui
contoh sebagai berikut:
Misalkan biaya tetap(fixed cost) Rp 40.000,-,
biaya ini dikeluarkan kendatipun tidak ada penjualan. Biaya variable Rp 1,2 per
unit artinya berap unit yang dijual biaya variabelnya dikalikan Rp 1,2.
Bertambah besar volume penjualan bertambah besar pula biaya variable. Penjualan
per unit dimisalkan Rp 2.
Dari data ini dapat kita cari break even sebagai
berikut:
Sales = Price x Quantity
S
= P . Q
S
=Rp 2 . Q
P
menggambarkan harga per unit, Q menggambarkan volume penjualan dalam unit,
sedangkan S menggambarkan nilai total penjualan (sales).
Total
biaya adalah biaya tetap + biaya variable
TC
= FC + VC
Jika
FC = Rp 40.000,- maka :
TC
= 40.000+ 1,2.Q
Dari
rumusan ini kita dapat membuat rumus break even
Kalau
kita ingin mengetahui total cost atau total penerimaan dari penjualan maka yang
diperlukan hanya volume penjualan dalam unit (Q). setiap jumlah Q akan kita
dapat menghitung sales,total cost, dan juga laba/rugi.
Namun
dalam BEP yang menjadi pegangan bagi kita adalah titik dimana perusahaan tidak
mengalami laba dan tidak mengalami rugi atau istilah lainnya titik IMPAS. Titik
impas ini terjadi apabila:
TR
(Sales) = P. Q
TC
= FC + VC
Jadi
pada titik break even:
Harga
x Kuantitas Penjualan =
biaya tetap + biaya variable
P
. Q =
FC+ VC
P
.Q
=
FC + (V . Q )
(P.
Q) – (V.
Q)
=
FC
Q
(P-V) =
FC
V=
harga variable cost per unit
Jadi
: Q= FC / (P-V)
Labels: ekbis
