Wednesday, 31 July 2019

Bab III Model ekonomi, Pelaku Ekonomi, perilaku produsen & konsumen


1.   Model Ekonomi
Secara garis besar para pelaku ekonomi dikategorikan menjadi empat sektor, yakni rumah tangga atau para konsumen (RTK)  produsen (RTP), pemerintah, dan sektor luar negeri. Keempat pelaku ini pun ada dalam sistem perekonomian di Indonesia.
   Perekonomian dua sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor perusahaan dan sektor rumah tangga konsumsi. Dalam perekonomian tidak terdapata pajak dan pengeluaran pemerintah. Perekonomian itu juga tidak melakukan perdagangan luar negeri dan dengan demikian perekonomian itu tidak melakukan kegiatan ekspor dan impor.

2.   Pelaku Ekonomi
a.    Rumah Tangga Keluarga/ Konsumen
Rumah tangga keluarga/ konsumen adalah pelaku ekonomi yang terdiri atas ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lainnya. Rumah tangga keluarga termasuk kelompok pelaku ekonomi yang cakupan wilayahnya paling kecil. Rumah tangga keluarga adalah pemilik berbagai faktor produksi. Faktor-faktor produksi yang terdapat pada rumah tangga keluarga antara lain tenaga kerja, tenaga usahawan, barang-barang modal, kekayaan alam, dan harta tetap (seperti tanah dan bangunan). Faktor-faktor produksi yang disediakan oleh rumah tangga keluarga akan ditawarkan kepada sektor perusahaan.
b.    Rumah Tangga Produsen/ Perusahaan
Perusahaan adalah organisasi yang dikembangkan oleh seseorang atau sekumpulan orang dengan tujuan untuk menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Kegiatan ekonomi yang dilakukan rumah tangga perusahaan meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi.

c.     Pemerintah
Pemerintah adalah badan-badan pemerintah yang bertugas untuk mengatur kegiatan ekonomi. Seperti halnya rumah tangga keluarga dan perusahaan, pemerintah juga sebagai pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi.
d.    Masyarakat luar negeri
Masyarakat sebagai pelaku ekonomi maksudnya adalah masyarakat luar negeri. Masyarakat luar negeri juga termasuk pelaku ekonomi yang penting bagi perekonomian, karena berhubungan dengan transaksi luar negeri. Transaksi luar negeri tidak hanya berupa transaksi perdagangan, namun juga berhubungan dengan penanaman modal asing, tukar menukar tenaga kerja, serta pemberian pinjaman.

a.       Peran rumah tangga produsen sebagai pelaku ekonomi:
·      Sebagai Produsen: menghasilkan barang dan jasa
·      Pengguna factor produksi: menggunakan factor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.
·      Agen pembangunan: membantu pemerintah dengan menjalankan kegiatan pembangunan.
·      Sebagai distributor: sebagai mata rantai penyaluran barang dalam rangka melayani konsumen
b.      Peran rumah tangga konsumen sebagai pelaku ekonomi:
·      Rumah tangga berperan sebagai pemasok faktor-faktor produksi kepada perusahaan untuk kegiatan produksi.
·      Rumah tangga berperan sebagai pemakai (konsumen) barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
c.       Peran pemerintah sebagai pelaku ekonomi:
·      Peran pemerintah sebagai pengatur
·      Peran pemerintahh sebagai pengontrol
·      Peran pemerintah sebagai penguasa
·      Peran pemerintah sebagai konsumen
·      Peran pemerintah sebagai produsen/ investor
d.      Peran masyarakat luar negeri sebagai pelaku ekonomi:
·      Masyarakat luar negeri sebagai konsumen
·      Masyarakat luar negeri sebagai produsen
·      Masyarakat luar negeri sebagai investor
·      Sumber tenaga ahli

Peran keempat pelaku ekonomi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya ternyata memiliki interaksi timbal balik, yang bila digambarkan dalam sebuah diagram akan menunjukkan suatu arus melingkar yang membentuk sebuah sistem. Diagram yang menunjukkan interaksi timbal balik antarpelaku ekonomi disebut diagram interaksi pelaku ekonomi (circulair flow diagram).
Untuk mempermudah pemahaman tentang diagram interaksi pelaku ekonomi maka akan dijelaskan dua model, yakni model sederhana (dua pelaku) dan model lengkap (empat pelaku).
 













5.   Perilaku Konsumen
a.       Pengertian
Konsumsi adalah kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang dan jasa. Ini dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara langsung. Setiap individu dan masyarakat secara umum mempunyai kecenderungan tertentu dalam melakukan konsumsi. Kecenderungan mengkonsumsi disebut dengan pola konsumsi. Tinggi rendahnya pola konsumsi mencerminkan tingkat hidup masyarakat.

b.      Faktor yang mempengaruhi konsumsi
1)       Faktor Internal.
a)  Pendapatan
b)  Motivasi.
c)   Sikap dan Kepribadian.
d)  Selera.
2)       Faktor Eksternal.
a)   Kebudayaan.
b)   Status Sosial.
c)   Harga barang.

c.       Jenis perilaku konsumen
1)     Perilaku Konsumsi Rasional
Perilaku konsumsi rasional adalah perilaku konsumen yang didasari atas pertimbangan rasional (nalar) dalam mengkonsumsi suatu produk. Suatu pembelian dikatakan rasional bila:
a)      Produk tersebut mampu memberikan kegunaan optimal (optimum utility) bagi konsumen.
b)      Produk tersebut benar-benar dibutuhkan konsumen.
c)      Mutu produk yang dibeli terjamin kualitasnya.
d)     Harga terjangkau, dan sesuai dengan kemampuan konsumen untuk membelinya.


2)     Perilaku Konsumsi Tidak Rasional (Irrasional)
Sebuah tindakan dalam berbelanja dapat dikatakan tidak rasional bila seseorang konsumen memutuskan membeli barang tanpa pertimbangan yang baik. Berikut adalah contoh perilaku konsumsi irrasional.
a)      Membeli barang hanya karena tertarik dengan iklan yang menggiurkan.
b)      Tertarik membeli barang hanya karena mereknya yang terkenal.
c)      Membeli barang hanya karena obral atau untuk memperoleh bonus hadiah.
d)     Konsumsi hanya untuk pamer atau gengsi, bukan karena kebutuhan akan barang tersebut.

6.   Perilaku Konsumen
a.       Pengertian
Produksi adalah usaha menciptakan dan meningkatkan kegunaan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan.
b.      Faktor Produksi
Faktor Produksi Asli
a)     Alam. Terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan barang tambang.
b)     Tenaga kerja. Tanpa adanya tenaga kerja, sumber daya alam yang tersedia tidak akan dapat dirubah atau diolah menjadi barang hasil produksi. Tenaga kerja dibagi menjadi.
(1)     Tenaga kerja menurut sifat kerjanya dibagi atas: (1) Tenaga kerja rohani, yaitu tenaga kerja yang menekankan kemampuan berpikir manusia. Contohnya adalah guru, dokter, akuntan, dan sebagainya. (2) Tenaga kerja jasmani, yaitu tenaga kerja yang menekankan kemampuan fisik dalam proses produksi.  Misalnya tukang kayu, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan sebagainya.
(2)     Tenaga kerja menurut kualitas kerja terbagi atas: (1) Tenaga kerja tidak terdidik dan terlatih, (2) Tenaga kerja terdidik dan terlatih, dan (3) Terlatih
Faktor Produksi Turunan
a)   Modal
Meski terdapat bahan baku dan manusia untuk mengolahnnya, bila tidak ada modal, produksi tidak akan berjalan baik. Modal dapat meliputi uang, mesin produksi, peralatan, dan sebagainya.
b)  Keahlian
Yang dimaksud keahlian disini adalah kemampuan pengusaha sebagai produsen untuk mengolah faktor-faktor produksi diatas, hingga dapat melakukan tindakan produksi yang efektif dan efisien.

c.       Perilaku Produsen
Pengusaha adalah orang yang mencari peluang yang menguntungkan dan mengambil risiko seperlunya untuk merencanakan dan mengelola suatu bisnis. Agar berhasil, seorang pengusaha harus mampu melakukan 4 hal sebagai berikut.
a.       Perencanaan. Perencanaan terkait dengan penyusunan strategi, rencana bisnis, serta visi perusahaan. Ia harus tahu apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapai tujuan itu.
b.      Pengorganisasian. Semua sumber daya yang ada harus bisa ia kelola untuk mencapai tujuan perusahaannya, baik SDA, SDM, maupun modal.
c.       Pengarahan. Agar rencana bisa terwujud, pengusaha wajib mengarahkan dan membimbing anak buahnya.
d.      Pengendalian. Kemampuan ini ada hubungannya dengan bagaimana hasil pelaksanaan kerja tersebut.

Bab II Kelangkaan


1.   Kelangkaan
Kelangkaan  adalah  kondisi  di  mana  kita  tidak  mempunyai  cukup  sumber  daya  untuk memuaskan  semua  kebutuhan  kita.  Dengan  singkat  kata  kelangkaan  terjadi  karena  jumlah kebutuhan lebih banyak dari jumlah barang dan jasa yang tersedia. Kelangkaan bukan berarti segalanya  sulit  diperoleh  atau  ditemukan.  Kelangkaan  juga  dapat  diartikan  alat  yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan jumlahnya tidak seimbang dengan kebutuhan yang harus dipenuhi. Kelangkaan mengandung dua pengertian:
1.  Alat pemenuhan kebutuhan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
2.  Untuk mendapatkan alat pemuas kebutuhan memerlukan pengorbanan yang lain.
Masalah  kelangkaan  selalu  dihadapi  merupakan  masalah  bagaimana  seseorang  dapat memenuhi  kebutuhan  yang  banyak  dan  beraneka  ragam  dengan  alat  pemuas  yang  terbatas. Dalam  menghadapi  masalah  kelangkaan,  ilmu  ekonomi  berperan  penting  karena  masal ekonomi yang sebenarnya adalah bagaimana kita mampu menyeimbangkan antara keinginan yang  tidak  terbatas  dan  alat  pemuas  kebutuhan  yang  terbatas.  Apabila  suatu  sumber  daya dapat  digunakan  untuk  menghasilkan  suatu  alat  pemuas  kebutuhan  dalam  jumlah  tidak terbatas, maka sumber daya tersebut dikatakan tidak mengalami kelangkaan

2.   Faktor Penyebab Kelangkaan
a.         Keterbatasan sumber daya
b.         Perbedaan letak geografis
c.          Pertambahan jumlah penduduk
d.         Keterbatasan kemampuan produksi
e.         Bencana alam
f.           Kerusakan sumber daya alam akibat ulah manusia
g.         Keterbatasan manusia untuk mengolah sumber daya yang ada
h.         Peningkatan Kebutuhan manusia yang lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan penyediaan sarana kebutuhan

3.   Strategi Mengatasi Kelangkaan
1.      Menyusun Skala Prioritas Kebutuhan
Skala prioritas kebutuhan adalah suatu daftar tentang berbagai macam kebutuhan hidup yang disusun berdasarkan kepentingannya, dari yang paling penting dan mendesak, dapat ditunda  pemenuhannya  hingga  tidak  perlu  dipenuhi.  Dalam  menyusun  skala  prioritas kebutuhan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya 2 point berikut
·      Urutan  pemuasan  kebutuhan  harus  didasarkan  pada  tingkat  kepentingan  dan mendesak tidaknya kebutuhan tersebut .  Langkah ini perlu dilakukan agar kita dapat menentukan kebutuhan apa saja yang perlu segera dipenuhi dan mana yang masih bisa ditunda pemenuhannya.
·      Disesuaikan dengan penghasilan. Karena semua kebutuhan tetap tidak akan terpenuhi apabila total uang  yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan lebih besar daripada penghasilan.
2.      Berlaku Arif dan Bijaksana dalam Memanfaatkan Sumber Daya
Berlaku  arif  dan  bijaksana  dalam  memanfaatkan  sumber  daya  bisa  diterapkan  dengan melakukan usaha-usaha berikut.
·      Memanfaatkan   sumber  daya  alam  secara  efisien  dan  efektif   serta  menggali  yang belum terangkat. Kegiatan ini perlu dilakukan agar sumber daya yang ada tidak cepat rusak  atau  puna  dan  yang  baru  dapat  dimanfaatkan  secara  optimal.  Contohnya  : memperbaiki barang yang rusak.
·      Menyelenggarakan  pendidikan  dan  pelatihan  ketrampilan  untuk  meningkatkan kualitas  sumber  daya  manusia.  Melalui  kegiatan  ini  diarapkan  terbentuk  tenaga  tenaga terampil dan ahli di bidang sehingga dapat memaksimalkan kegunaan sumber daya. Misalnya, menyelenggarakan kursus menjahit dan pelatihan montir.
·      Mengelola  dan  mendayagunakan  sumber  modal  secara  tepat  guna.  Pengelolaan sumber  daya  modal  secara  tepat  guna  akan  membuat  seseorang  mampu  mengatur penghasilannya  dengan  benar.  Bagi  pengusaha,  ia  bisa  mengefisienkan  biaya operasional sehingga keuntungan yang diperole pun maksimal

4.   Prinsip ekonomi
Biaya peluang adalah pengorbanan yang dilakukan seseorang karena mengambil sebuah pilihan. Berbeda dengan biaya langsung yang berhubungan dengan uang, biaya peluang tidak harus berhubungan dengan uang.
Perhitungan biaya peluang bagi setiap orang dapat berbeda, tergantung pada kondisi dan situasi yang dihadapi orang tersebut. Terkait dengan alokasi sumber daya, konsep biaya peluang tidak hanya berlaku untuk individu, tetapi juga sebuah perekonomian. Alokasi sumber daya (resource alocation) adalah keputusan tentang seberapa besar sumber daya alam, manusia, dan modal harus digunakan untuk melakukan proses produksi.
Sebagai contoh, misalnya 2.200 buah komputer dapat dihasilkan jika perusahaan menentukan untuk mengurangi sumber daya yang akan digunakan untuk memproduksi mobil menjadi 600 buah saja. Hal ini menjelaskan kenapa kurva kemungkinan produksi memiliki kemiringan (slope) negatif. Alasannya tidak semua sumber daya dapat digunakan untuk memproduksi semua barang pemuas kebutuhan yang diinginkan. Jumlah produksi untuk suatu barang dapat dicapai dengan mengurangi produksi barang yang lain. Kurva kemungkinan produksi untuk kombinasi output yang dipilih perusahaan dapat dilihat sebagai berikut: